Loading...

Rapi Indriastuti, Pensiun dari Bulog Jadi Sahabat RPK

11:15 WIB | Wednesday, 24-May-2017 | Non Komoditi, Olahan Pasar | Penulis : Julianto

 

Pensiun bukan berarti berhenti bekerja. Itu yang ingin disampaikan Rapi Indriastuti, yang pernah bekerja di Divre Bulog Jawa Tengah.

Setelah pensiun Nopember 2016 lalu, Rapi langsung membuka usaha Rumah Pangan Kita (RPK) di rumahnya yang beralamat di Jalan Wonosari, Krajen No.31, Semarang. Sebenarnya usaha RPK dia rintis sebulan sebelum pensiun yakni Oktober 2016.

Usaha berjualan bahan pokok bagi pensiunan Kepala Seksi Penyaluran Bulog Divre Jateng kini menjadi kesibukan sehari-hari. Bahkan dapat menambah kocek keluarga.

"Dengan membuat RPK saya juga bisa membantu masyarakat menyediakan pangan murah dan menyalurkan Rastra (beras masyarakat sejahtera) melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)," kata Rapi yang memberi nama RPKnya dengan RPK Permatasari.

Awal terjun mengelola RPK, Rapi hanya bermodalkan Rp 5 juta untuk membeli produk pangan yang dijual Perum Bulog. Meski tidak memiliki kios atau toko dan hanya menjual di teras rumah, tapi usahanya tersebut disambut baik masyarakat sekitar.

"Dari modal Rp 5 juta sekarang sudah berkembang. Saya bisa bertransaksi dan memesan ke Bulog tiap dua minggu sekali. Masyarakat pun responnya baik, karena mereka tidak perlu ke pasar," katanya.

Apalagi harga produk pangan, seperti beras, gula dan minyak goreng yang dijual lebih murah ketimbang harga pasaran. Harga beras medium Rp 9.500/kg atau Rp 47.500/5 kg, beras premium Rp 10.300/kg atau Rp 51.500/5 kg, gula Rp 12.500/kg dan minyak goreng Rp 11.000/kg.

Sedangkan​ untuk program Rastra yang kini diberikan melalui BPNT, Rapi mengatakan, dirinya mendapat alokasi membagikan sebanyak 268 kepala keluarga. Dengan volume beras 20 kg beras dan 4 kg gula. Jumlah itu untuk pembagian dua bulan penyaluran. "Untuk paket BPNT ini saya menyalurkan melalui kecamatan, karena pemberinya dilakukan di kecamatan setelah itu didistribusikan ke kelurahan," katanya.

Rumah Pangan Kita (RPK) memang kinu menjadi salah satu program Perum Bulog untuk menyediakan pangan murah dan menjaga stabilitas pangan di masyarakat. Berbeda dengan cara sebelumnya seperti operasi pasar murah dimana Perum Bulog yang langsung terjun ke masyarakat. Sedangkan program RPK, Bulog melibatkan masyarakat untuk memasarkan produk pangan.

Kepala Divisi Regional Perum Bulog Jawa Tengah, Djoni Nur Asahari mengatakan, pengembangan RPK menjadi salah satu upaya Bulog memperluas jaringan pasar ke masyarakat. Di RPK masyarakat bisa bekerja sama dengan Bulog untuk menjual komoditi pangan seperti beras, gula dan minyak goreng. "RPK ini kita punya tag line Murah dan Sehat," katanya.

Saat ini sudah ada 2.958 RPK di seluruh Indonesia. Untuk menjadi sahabat RPK, Djoni menegaskan, masyarakat tidak perlu harus memiliki kios.  Misalnya pun tidak besar, hanya dengan dana Rp 5 juta masyarakat bisa menjadi sahabat RPK.

Siapa berminat? Yul

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162