Loading...

Petani Ngawi bersemangat Tanam Padi di Musim Kemarau

09:59 WIB | Wednesday, 14-June-2017 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Indarto

Kabupaten Ngawi yang memiliki lahan baku sawah seluas 50.197 hektar, dengan indeks partanaman (IP) 2,7 merupakan salah satu kawasan lumbung pangan di Jatim. Memasuki musim kemarau, petani Ngawi bersemangat menggarap lahannya karena berharap memperoleh hasil panen padi yang tinggi.

 

Meski lahan sawah di Kab. Ngawi terbilang tak terlalu luas, namun produksi padi di daerah ini menempati urutan kelima setelah Kabupaten Banyuwangi. Tak berlebihan apabila Kab. Ngawi disebut sebagai salah satu lumbung padi di Jatim dengan produktivitas rata-rata 7-8 ton gabah per hektar.

 

Mememasuki musim kemarau (MK) tahun ini sejumlah kecamatan di Kab. Ngawi sudah mulai panen. Sementara petani lain di sebagian wilayah Kab. Ngawi pada Juni 2017 sudah ada yang mulai melaksanakan tanam padi.

 

“Padi yang dipanen petani pada musim kemarau tahun ini cukup bagus kualitasnya. Harga gabahnya juga cukup tinggi mencapai Rp 3.800-Rp 4.000 per kg. Jauh di atas harga Bulog,” papar Kepala Dinas Pertanian Kab. Ngawi, Marsudi, di Jakarta, pekan lalu.

 

Padi yang dipanen petani pada musim kemarau tahun ini, menurut Marsudi, tak perlu dikeringkan dengan bantuan mesin dryer. Cukup diangin-anginkan di bawah terik panas matahari, kemudian dimasukkan kedalam karung. “Selanjutnya dijemur di pelataran rumah petani, atau di lantai jemur. Karena panasnya cukup terik, dua-tiga hari sudah kering dan siap dikemas,” kata Marsudi.

 

Panen yang dilaksanakan pada awal tahun 2017, yang bertepatan dengan musim hujan memang kurang menguntungkan bagi petani. Pada saat itu harga gabah di tingkat petani sempat anjlok hingga Rp 2.700 per kg. “Ketika itu, tepatnya pada awal Februari 2017 curah hujan tinggi, sehingga gabah yang dipanen petani kadar airnya juga tinggi,” ujarnya.

 

Di musim kemarau petani yang kesulitan air bisa memanfaatkan sumur dangkal atau menggunakan sumur bor yang sudah disediakan pemerintah. “ Jadi tak ada masalah bagi petani di Ngawi untuk menanam padi pada saat musim kemarau. Karena tak ada masalah, IP kita (2,7). Artinya, setahun kita bisa tanam padi sebanyak 3 kali,” jelas Marsudi.

 

Produksi Meningkat

 

Hasil padi di Kab. Ngawi terdata mampu menyumbang 20% dari pendapatan asli daerah (PAD). Karena itu, pada tahun 2017, Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi menargetkan produksi gabah sebanyak 823. 465 ton GKG. Data Dinas Pertanian Kab. Ngawi juga menyebutkan, kurun tiga tahun terakhir produksi padi yang ditanam petani di 19 kecamatan menunjukkan peningkatan yang signifikan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162