Loading...

Mengukir Harapan dan Budaya Menulis

10:26 WIB | Tuesday, 18-October-2016 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Sjamsoe’eod Sadjad

 

Orang yang tahu tentang seni, menggolongkan apa yang saya kerjakan menghasilkan boneka berkepala batok kelapa dan biji matoa itu tergolong seni instalasi. Saya tidak mempedulikan itu, karena tujuan saya hanya ingin mengisi waktu dalam usia sudah lanjut ini dan bisa menenteramkan hati dan pikiran saya kalau pekerjaan itu cepat dapat saya selesaikan.

 

Untuk membuat lukisan cat minyak di atas kanvas saya sudah tidak mempunyai kesabaran lagi, dan alhamdulillah batok kelapa kering yang jatuh dari pohonnya yang lalu menyampah di halaman rumah membentuk seperti kepala orang dengan mata, hidung, dan mulut terbuka kalau dikupas serabut dan kulit buahnya, perspektif tepat menggambarkan muka orang yang seperti keheranan melihat sesuatu. Tinggal saya memolesnya dengan menambahkan kaca mata, rambut, dan topi serta pakaian, semuanya merupakan barang-barang yang sudah tidak berguna di rumah, terciptalah apa yang saya sebut sebagai lukisan tiga dimensi.

 

Hingga puluhan jumlahnya, dan semua saya deretkan di meja dan di manapun, selintas pandang merupakan sebuah lukisan. Saya bisa merasakan sendiri keunikannya, dan meresapkan sesuatu keindahan karena membuahkan suatu harapan. Barangkali mereka yang sempat menengok saya yang hidup menyendiri ini mau juga melihat apa yang saya sebut lukisan tiga dimensi, yang tidak lain berupa pajangan di atas meja-meja penuh berbagai pernik, tidak ada harganya itu. Sewaktu belum pensiun saya menggeluti biji tanaman untuk dijadikan benih yang bersifat komersial melalui teknologi industri, saat saya tua masih juga sebagai kesibukannya menjadikan biji tanaman sebagai benda hiasan.

 

Semua yang saya kerjakan itu pada hakikatnya tidak lain merupakan usaha saya mengukir harapan di masa lanjut usia (lansia) ini. Di usia muda tanpa pemikiran pun bisa banyak membuahkan harapan. Di era lansia macam saya sekarang ini yang tergolong sudah tingkat tinggi mendapatkan suatu harapan dalam alam pikirnya sudah sangat sulit, apalagi untuk bisa mencapainya. Rasanya otak ini sudah kosong isinya, termasuk terkuras ludes semua harapan. Tinggal hati yang lebih banyak mengemuka dan terucap berbagai doa yang tidak henti siang dan malam.

 

Harapan itu berarti kehidupan. Artinya tanpa harapan berarti mati. Meski sudah diberi Allah umur cukup banyak, saya tetap berdo’a agar bisa masih diberi kelanjutannya. Mudah-mudahan Allah mengabulkan karena saya merasa masih begitu banyak dosa dalam hidup ini, yang saya harus mohon pengampunan. Mudah-mudahan nantinya saya bisa tenteram menerima panggilan-Nya. Bagi saya itu adalah keniscayaan-Nya. Kalau tidak, saya bisa pusing sekiranya semua yang dibaca tetap tertimbun di otak, tidak bisa dilupakan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162