Loading...

Importir Gelontorkan Bawang Putih dengan Harga Rp 22.500/kg

14:23 WIB | Tuesday, 30-May-2017 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Kalangan pelaku usaha bawang putih yang tergabung dalam Perkumpulan Petani dan Pengusaha Bawang Indonesia (P3BI) mulai menggelontorkan bawang putih impor ke pasar-pasar guna menjaga stabilisasi harga komoditi tersebut. Harga dibandrol sebesar Rp 22.500/kg.

 

Ketua Umum P3BI, Edu Herdi mengatakan, untuk membantu pemerintah menjaga stabilisasi pangan, khususnya bawang putih, pihaknya menggelar Operasi Stabilisasi Harga Bawang (OSHB) selama bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran nanti.

 

“Kita ikuti himbauan pemerintah. Kali ini kita turunkan satu kontainer bawang putih atau sebanyak 1.475 kg ke Pasar Induk Kramat Jati. Ini bentuk komitmen kita mendukung kebijakan pemerintah, “ katanya di sela-sela OSHB di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/5).

 

OSHB ini lanjut dia akan digelar juga di Pasar Cibitung pada Jumat mendatang dan dilakukan secara bertahap. Diharapkan dengan OSHB harga bawang putih akan stabil. Karena itu dengan harga bawang putih impor Rp 22.500/kg, Edu berharap, harga di tingkat pengecer tidak melonjak hingga sampai 40 ribu/kg seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

 

“Untuk pemerataan, kami membatasi penjualan bawang putih ke pedagang maksimal hanya 50 sak,” katanya. Tiap sak berisi 20 kg. Dengan demikian, tiap pedagang hanya mendapatkan jatah 1.000 kg.

 

Bahkan Edu memprediksi, harga bawang putih bakal turun lagi menyusul panen besar di negeri China dalam waktu dua minggu lalu. Diakui, memang bawang putih impor yang masuk ke Indonesia banyak berasal dari China. Selain itu juga ada dari India dan Pakistan. “Kualitas bawang  China lebih baik karena umbinya lebih besar ketimbang dari India,” ujarnya.

 

Dengan kebutuhan bawang merah sekitar 450 ribu ton/tahun, menurut Edu, produksi di dalam negeri belum bisa mencukupi seluruh kebutuhan tersebut. Bahkan diperkirakan bawang putih impor mengisi hampir 95% kebutuhan dalam negeri. “Produksi bawang putih kita sedikit sekali. Dulu ada di Temanggung, Simalungun dan Mojokerto, tapi kini hanya sedikit petani yang membudidayakan,” katanya.

 

Mengenai keputusan pemerintah tiap importir wajib mengembangkan budidaya bawang putih di dalam negeri 5% dari volume impor, Edu mengatakan, pihaknya akan berupaya melaksanakan kewajiban tersebut. Bagaimana prakteknya, P3BI akan bekerjasama dengan kelompok tani yang telah ditunjuk Kementerian Pertanian.

 

“Teknis detailnya nanti seperti apa, saya belum mengetahui. Tapi nanti kita berharap pemerintah juga memfasilitasi kelompok taninya. Kita akan ikuti saja,” katanya.

 

Hasil pantauan Sinar Tani setidaknya ada empat kontainer berisi bawang putih yang melakukan operasi pasar di Pasar Induk Kramat Jati. Satu kontainer milik PT. Setia Maju Sejahtera Abadi (anggota P3BI) dan tiga kontainer lainnya di luar anggota P3BI. Yul

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162